Malam
itu hujan melanda Ibu Kota. Tak terlalu deras, namun rintikannya terdengar
sedikit keras ditelinga. “Tin..Tin…” bunyi klakson saling bersautan dari
kendaraan yang berlalu lalang di perempatan jalan. Tak sedikit dari mereka yang
meneduh di halte, rumah makan, bahkan emperan toko. Di sisi jalan tepatnya depan Mall Kota Kasablanka Jakarta, Kezia (22)
melihat seorang ibu bersama anak perempuan yang ditaruh dalam gerobak menepi
menghindari hujan.
Sempat
terlintas dalam benak Kezia, yang dilihat adalah seorang pemulung. Benar dugaan
Kezia, wanita itu mengenakan pakaian kumuh sambil mendorong gerobak yang
berisikan barang bekas dan anak perempuan yang sengaja ditaruh di dalamnya. Ia berjalan menelusuri trotoar dan menepi
dibawah pohon rindang tak jauh dari tempat Kezia meneduh pula.
Dari
tempat Kezia berteduh, terlihat wanita itu menutupi atas gerobak dengan
selembar kardus yang dibuatnya memanjang. Menutupi sebagian barang bekas dan
sang anak agar tak terkena tetesan air hujan. Tak lama menepi, hujan pun masih
mengguyur daerah sekitar, wanita itu terlihat mengambil kembali botol bekas di
jalan dengan karung dan besi yang dipegang. Anaknya dibiarkan menunggu dalam
gerobak, melihat dari celah atas gerobak, sang ibu yang kembali memulung.
Bergetar
hati Kezia melihat apa yang terjadi didepannya saat itu. Ingin membantu, namun
keadaan tak memungkinkan. Tak lama kemudian, sang ibu kembali dengan botol
bekas yang telah diperoleh. “Satu…dua…” terdengar suara ibu tersebut , sontak
Kezia mengamati kembali apa yang dilakukan sang ibu. Ya, ibu yang telah berumur
itu terlihat menghitung botol bekas yang telah dikumpulkan seharian ini. Secara
kasat mata, Kezia melihat botol yang terkumpul tak terlalu banyak. Namun
terlihat dari mimik wajah sang ibu,
menerima apa yang telah diberikan Tuhan kepadanya.
Malam
semakin larut, hujan pun sedikit mereda. Kezia kembali memperhatikan apa yang
dilakukan ibu tersebut. Sang ibu terlihat kembali menaruh botol bekas ke dalam
gerobak. “Ma, ayok pulang” rengekan sang anak yang kembali terdengar oleh Kezia
dari dalam gerobak. Ibu tersebut terlihat mengangguk seakan memberi petanda
‘mengiyakan’ permintaan sang anak. Setelah selesai merapikan botol bekas, sang ibu
kembali mendorong gerobak tersebut.
Kaki
kecil yang tak diberi alas, terlihat melangkah meninggalkan tempat berteduh
sang ibu. Kezia masih memperhatikan sang ibu yang lama kelamaan menghilang
menelusuri jalan ditemani bisingnya kendaraan dan sisa-sisa rintikan air hujan.
Malam itu,Kezia mendapatkan sesuatu
berharga dari apa yang dilihatnya. Ibu rela melakukan apapun demi
kebahagian buah hatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar