Minggu, 25 Maret 2018

Suatu Malam Di Pinggir Jalan



Malam itu hujan melanda Ibu Kota. Tak terlalu deras, namun rintikannya terdengar sedikit keras ditelinga. “Tin..Tin…” bunyi klakson saling bersautan dari kendaraan yang berlalu lalang di perempatan jalan. Tak sedikit dari mereka yang meneduh di halte, rumah makan, bahkan emperan toko. Di sisi jalan tepatnya  depan Mall Kota Kasablanka Jakarta, Kezia (22) melihat seorang ibu bersama anak perempuan yang ditaruh dalam gerobak menepi menghindari hujan.
Sempat terlintas dalam benak Kezia, yang dilihat adalah seorang pemulung. Benar dugaan Kezia, wanita itu mengenakan pakaian kumuh sambil mendorong gerobak yang berisikan barang bekas dan anak perempuan yang sengaja ditaruh di dalamnya.  Ia berjalan menelusuri trotoar dan menepi dibawah pohon rindang tak jauh dari tempat Kezia meneduh pula.
Dari tempat Kezia berteduh, terlihat wanita itu menutupi atas gerobak dengan selembar kardus yang dibuatnya memanjang. Menutupi sebagian barang bekas dan sang anak agar tak terkena tetesan air hujan. Tak lama menepi, hujan pun masih mengguyur daerah sekitar, wanita itu terlihat mengambil kembali botol bekas di jalan dengan karung dan besi yang dipegang. Anaknya dibiarkan menunggu dalam gerobak, melihat dari celah atas gerobak, sang ibu yang kembali memulung.
Bergetar hati Kezia melihat apa yang terjadi didepannya saat itu. Ingin membantu, namun keadaan tak memungkinkan. Tak lama kemudian, sang ibu kembali dengan botol bekas yang telah diperoleh. “Satu…dua…” terdengar suara ibu tersebut , sontak Kezia mengamati kembali apa yang dilakukan sang ibu. Ya, ibu yang telah berumur itu terlihat menghitung botol bekas yang telah dikumpulkan seharian ini. Secara kasat mata, Kezia melihat botol yang terkumpul tak terlalu banyak. Namun terlihat dari mimik wajah  sang ibu, menerima apa yang telah diberikan Tuhan kepadanya.
Malam semakin larut, hujan pun sedikit mereda. Kezia kembali memperhatikan apa yang dilakukan ibu tersebut. Sang ibu terlihat kembali menaruh botol bekas ke dalam gerobak. “Ma, ayok pulang” rengekan sang anak yang kembali terdengar oleh Kezia dari dalam gerobak. Ibu tersebut terlihat mengangguk seakan memberi petanda ‘mengiyakan’ permintaan sang anak. Setelah selesai merapikan botol bekas, sang ibu kembali mendorong gerobak tersebut.
Kaki kecil yang tak diberi alas, terlihat melangkah meninggalkan tempat berteduh sang ibu. Kezia masih memperhatikan sang ibu yang lama kelamaan menghilang menelusuri jalan ditemani bisingnya kendaraan dan sisa-sisa rintikan air hujan. Malam itu,Kezia mendapatkan sesuatu  berharga dari apa yang dilihatnya. Ibu rela melakukan apapun demi kebahagian buah hatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar